Latar belakang lahirnya Lembaga Ekonomi Internasional tidak terlepas dari sejarah Bangsa-bangsa di Dunia. Di era perang dunia 1 dan dunia 2, Konsep Internasional dalam bidang ekonomi belum mapan, bidang hukum lebih dahulu. Tetapi ketika memyentuh masalah dasar kekuatan dan daya tahan negara-negara dalam proses perang dan rekonsiliasi pasca perang, masalah ekonomi menjadi penting. Karena ini yang menggerakkan sebuah negara, daya tahan negara dalam mempertahankan kemerdekaannya, dan kesejahteraan rakyat sebuah negara. Maka kesepakatan internasional di bidang Ekonomi menjadi penting.
Sedang kata "ekonomi internasional" muncul pertama kali dalam karya ekonom Inggris Roy Forbes Harrod (1900–1978), diterbitkan tahun 1933, berjudul International Economics. Buku ini diterbitkan oleh Nisbet & Co., sebagai bagian dari seri Cambridge Economic Handbooks, dengan pengantar (intro) ditulis langsung oleh John Maynard Keynes sendiri (gurunya Harrod di Cambridge).
Buku ini dianggap standar dan salah satu karya paling koheren dari era pasca-Depresi/pra-Perang Dunia II, di mana Harrod berusaha menguraikan prinsip-prinsip dasar perdagangan dan keuangan internasional. Kontribusi konseptualnya mencakup foreign trade multiplier (pengganda perdagangan luar negeri), efek Balassa-Samuelson, crawling peg (sistem nilai tukar merangkak), dan masalah transfer (transfer problem).
Pada tahun yang sama (1933) muncul juga karya Interregional and International Trade yang ditulis oleh Bertil Gotthard Ohlin (1899–1979) adalah ekonom Swedia dengan latar belakang pendidikan yang cukup unik: ia memulai studi sarjana di Universitas Lund dengan spesialisasi matematika, sebelum beralih ke ekonomi di Stockholm School of Economics. Karya ini merupakan penyempurnaan dari karya Teori perdagangan berbasis faktor produksi menyempurnakan Eli Heckscher (gurunya langsung).
Baik karya Eli Heckscher dan Ohlin (1922, 1924) ditulis dalam bahasa Swedia, sehingga hanya dikenal kalangan terbatas di Skandinavia. Ohlin secara sadar menulis versi 1933 langsung dalam bahasa Inggris, diterbitkan oleh Harvard University Press sebagai bagian dari seri Harvard Economic Studies, sebuah strategi untuk menjangkau audiens akademik internasional yang jauh lebih luas, khususnya dunia berbahasa Inggris yang saat itu mendominasi wacana ekonomi global.
Fondasi paling penting yang sering dianggap sebagai cikal-bakal langsung buku 1933: berangkat dari sebuah artikel yang ditulis tahun 1919 oleh gurunya sendiri, Eli Heckscher, Ohlin mengembangkan tesis bahwa perdagangan interregional maupun internasional sama-sama merupakan mekanisme pertukaran spasial atas barang dan jasa yang diproduksi oleh faktor-faktor produksi. Oleh karena itu faktor-faktor produksi itu sendiri (tanah, sebagai contoh klasik faktor yang tidak bisa dipindah) relatif tidak bisa bergerak secara spasial, sehingga harga relatif di berbagai lokasi geografis justru bergantung pada faktor-faktor produksi yang tersedia di tempat tersebut.
Menurut analisis akademik, monograf ini menandai titik putus definitif dengan teori perdagangan internasional Ricardian dan neoklasik awal. Perbedaan mendasarnya: Ricardo (1817) menjelaskan perdagangan lewat perbedaan produktivitas tenaga kerja antarnegara (model satu faktor produksi).
Ohlin (mengikuti Heckscher) menjelaskan perdagangan lewat perbedaan kelimpahan relatif faktor produksi (tanah, tenaga kerja, modal), ini merupakan model multi-faktor yang jauh lebih realistis dan kompleks.
Dalam konteks sejarah ekonomi dunia, dua buku di atas terbit 1933, tepat di puncak Depresi Besar (Great Depression), ketika perdagangan internasional dunia sedang runtuh drastis akibat gelombang proteksionisme (termasuk Tarif Smoot-Hawley AS 1930), sehinggan muncul pertanyaan "mengapa dan bagaimana negara-negara seharusnya berdagang" menjadi isu yang sangat mendesak secara politik-praktis, bukan sekadar perdebatan akademik. Ini konteks yang mirip dengan situasi merkantilisme dulu merespon krisis ekonomi mendorong kebutuhan mendesak akan kerangka teori kebijakan perdagangan yang lebih baik.
Ekonom Mark Blaug dalam Great Economists Since Keynes mencatat bahwa pada akhir buku ini, seluruh spektrum masalah ekonomi internasional telah dibahas, dan yang lebih penting, buku ini secara brilian menampilkan keterkaitan erat antara teori lokasi, ekonomi regional, dan perdagangan internasional — inilah kontribusi paling orisinal Ohlin: ia menyatukan tiga bidang yang sebelumnya dianggap terpisah (makanya judulnya sengaja memuat kata "Interregional" DAN "International", sekaligus menegaskan bahwa logika ekonomi yang sama berlaku baik untuk perdagangan antarwilayah dalam satu negara maupun antarnegara).
Buku ini pula yang akhirnya mengantarkan Ohlin meraih Nobel Prize in Economics tahun 1977 (bersama James Meade) — sekitar 44 tahun setelah buku ini terbit, menunjukkan betapa besar dan tahan lamanya pengaruh karya ini terhadap perkembangan teori perdagangan internasional modern, yang kini dikenal sebagai Model Heckscher-Ohlin, salah satu dari tiga pilar utama teori perdagangan internasional yang diajarkan di seluruh dunia hingga sekarang (bersama model Ricardian dan model perdagangan modern/new trade theory Paul Krugman).
Jadi, frasa "International Economics" sebagai nama disiplin formal dicetuskan oleh Roy Harrod dalam bukunya berjudul sama, terbit 1933, dengan pengantar John Maynard Keynes, ini karya yang pertama kali secara eksplisit memakai frasa itu sebagai judul buku/nama bidang ilmu. Namun secara konseptual, disiplin ini adalah hasil akumulasi pemikiran 157 tahun (1776–1933) sejak Adam Smith, dengan titik krusial keunggulan komparatif Ricardo (1817) sebagai fondasi teoretis inti. Begitu juga dengan karya Ohlin yang menyempurnakan karya gurunya. Dengan demikian, Ekonomi Internasional muncul dari konsep ilmu ekonomi dan kepentingan memilah ekonomi domestik (negara) dengan negara lainnya.
Singkatnya, kemunculan negara modern pasca perang dunia II, memicu kebutuhan akan barang/jasa dalam negara yang tidak dimiliki oleh Negara Tersebut. Sebelumnya di era merkantilisme menjadikan "kekayaan = emas" sehingga banyak negara yang menjadikan emas sebagai alat ukur kekayaan dan kekuatan sebuah negara. Kemudian Merkantilisme ini dikritik karena tidak dapat menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat di negara tersebut.
Pertama kali kritik tersebut muncul dari François Quesnay (1694–1774), dokter istana Madame de Pompadour yang beralih menekuni ekonomi. Karyanya Tableau Économique (1758) adalah usaha pertama membuat model matematika terhadap keseluruhan aspek ekonomi, menunjukkan bagaimana sesungguhnya hubungan antarbagian ekonomi saling terkait, semacam "peta sirkulasi darah" perekonomian (Quesnay memang menggambarkan sistem ekonomi seperti tubuh manusia, wajar karena latar belakangnya sebagai dokter).
Quesnay, dkk menganggap kekayaan lahir dari hukum alam (bukan rekayasa kebijakan negara), mereka menyimpulkan bahwa campur tangan pemerintah justru merusak proses alamiah ini. Lahirlah slogan terkenal mereka: "laissez-faire, laissez-passer, le monde va de lui-même" ("biarkan berbuat, biarkan berlalu, dunia berjalan dengan sendirinya") — kebalikan total dari semangat proteksionis-intervensionis merkantilisme yang sudah kita bahas (Colbertisme dengan kontrol negara ketat).
Kritik kedua datang dari Adam Smith (1723–1790), lahir di Skotlandia, belajar di Universitas Glasgow dan kemudian Oxford. Sebelum menulis karya besarnya soal ekonomi, ia sebenarnya adalah filsuf moral. Karya pertamanya, The Theory of Moral Sentiments (1759), meletakkan fondasi filosofis bagi Wealth of Nations dengan berargumen bahwa sifat dasar manusia adalah mementingkan diri sendiri namun rasional, dan bahwa dengan berusaha memperbaiki nasib mereka sendiri, manusia justru secara tak sengaja memperbaiki masyarakat secara keseluruhan. Dari sinilah konsep "invisible hand" (tangan tak terlihat) pertama kali dicetuskan. Ini juga menjelaskan mengapa Wealth of Nations begitu kaya dimensi etis-filosofis, bukan sekadar analisis teknis angka.
Karya keduanya yang fonumental adalah Wealth of Nations (1776), Wealth of Nations ditulis selama 10 tahun (1766–1776) — bukan karya spontan, melainkan hasil riset dan perenungan panjang. Selama periode ini, Smith sempat melakukan perjalanan ke Prancis (1764–1766) sebagai tutor pribadi bagi seorang bangsawan muda, dan di sanalah ia berinteraksi langsung dengan kalangan Fisiokrat (Quesnay dan lingkarannya, yang sudah kita bahas). Ini merupaka sebuah pengalaman yang sangat memengaruhi pemikirannya, terutama soal kritik terhadap merkantilisme dan pentingnya kebebasan ekonomi.
Kenapa karya ini begitu fenomenal? Fakta sejarah mencatat bahwa buku ini terbit di tahun yang sama persis dengan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat (1776), dua dokumen yang sama-sama menjadi manifesto kebebasan, satu di ranah politik, satu di ranah ekonomi. institusi-institusi feodalisme, yang saat itu masih bertahan luas di Eropa, menempatkan berbagai pembatasan dan hambatan terhadap kelas borjuis industrial yang sedang bangkit dan persis di tahun yang sama, kaum revolusioner Amerika juga sedang memutus diri dari kekangan serupa. Karya Smith menyediakan "peluru teoretis" bagi kelas borjuis yang tumbuh untuk melawan birokrasi dan filsafat feodal.
Tujuan utama Smith menulis buku berjudul lengkap An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations adalah untuk membantu kesejahteraan kaum pekerja biasa. Ia meyakini model ekonomi yang ia kemukakan akan menghasilkan "kekayaan universal yang akan sampai ke golongan rakyat paling bawah sekalipun". Jadi tujuannya bukan sekadar memperkaya negara/kerajaan (seperti obsesi merkantilis), melainkan kemakmuran luas bagi seluruh lapisan masyarakat.
Smith memiliki 3 Konsep dan Pilar Ekonomi sebuah negara, pertama Pembagian Kerja (Division of Labor) Smith berargumen bahwa pertumbuhan terbesar dalam kekuatan produktif tenaga kerja, dan sebagian besar keterampilan, kecekatan, serta penilaian yang mengarahkannya, adalah akibat dari pembagian kerja. Perluasan produksi hasil karya berbagai keahlian, akibat pembagian kerja, menyebabkan dalam masyarakat yang teratur baik, kemakmuran universal yang menjangkau lapisan masyarakat paling bawah.
Kedua, Invisible Hand (Tangan Tak Terlihat)
Kutipan paling terkenal Smith: "Bukan karena kebaikan hati tukang daging, pembuat bir, atau tukang roti kita mengharapkan makan malam kita, melainkan karena perhatian mereka pada kepentingan diri mereka sendiri." Setiap individu secara alami berusaha memaksimalkan pendapatan tahunan masyarakat sebaik mungkin, meski ia sama sekali tidak berniat memajukan kepentingan publik dan bahkan tidak sadar sedang melakukannya. Ia hanya mengejar keuntungan pribadinya sendiri, namun dituntun oleh "tangan tak terlihat" untuk memajukan tujuan yang sama sekali bukan bagian dari niatnya dan ini bukan kerugian bagi masyarakat, karena dengan mengejar kepentingan pribadinya, individu sering memajukan kepentingan masyarakat lebih efektif dibanding jika ia memang berniat melakukannya secara sengaja.
Ketiga, Kritik Langsung terhadap Kebijakan Merkantilis. Smith secara eksplisit menentang kebijakan-kebijakan merkantilis di zamannya, berargumen bahwa penawaran dan permintaan seharusnya yang menentukan perdagangan, bukan regulasi pemerintah yang meletakkan fondasi teoretis yang akan membentuk pemikiran ekonomi selama berabad-abad ke depan. Ia juga membedakan secara tegas antara harga pasar (harga aktual di pasar, berfluktuasi) dan harga alamiah (natural price, titik keseimbangan jangka panjang) — serta menekankan sifat self-regulating (mengatur diri sendiri) dari mekanisme pasar, dan menentang campur tangan pemerintah yang tidak perlu.
Dampak gagasan Adam Smith terhadap kebebasan alamiah menimbulkan pemikiran baru di kalangan generasi berikutnya yang melalui kata-katanya mengubah arah politik, menghancurkan doktrin proteksionisme merkantilisme lama, dan membebaskan belenggu manusia dari kontrol ekonomi negara yang berlebihan. Sebagian besar negara di dunia yang mulai bergerak menuju perdagangan bebas dapat dikatakan dipengaruhi langsung oleh pemikiran karya Smith ini. Karya ini dianggap dokumen ideal yang melengkapi semangat Revolusi Industri dan hak-hak politik manusia yang sedang tumbuh di era yang sama.
Pemikiran ini kemudian menyebar dan membentuk sebuah madzhab yang sering disebut madzhab klasik, diantara tokoh dan teorinya seperti Jean-Baptiste Say (1803) meluli teori "Hukum Say": penawaran menciptakan permintaannya sendiri. David Ricardo (1817) yang mencetuskan teori keunggulan komparatif, teori nilai kerja. Thomas Malthus (1798) yang memunculkan teori populasi (pesimisme soal pertumbuhan penduduk vs pangan). Serta John Stuart Mill (1848) yang melalukan sintesis teori-teori sebelumnya dan menyempurnakan landasan teori akhir mazhab klasik ini.
Di sisi lain muncul Karl Marx (1867) melalui karya fonumentalnya "Das Kapital". Marx tidak menggantikan mazhab klasik secara mainstream, tapi mengembangkan cabang alternatif radikal darinya. Marx justru memakai teori nilai kerja Ricardo, tapi menariknya ke kesimpulan revolusioner (eksploitasi surplus value, keruntuhan kapitalisme). Marxisme berjalan paralel, bukan menggantikan arus utama akademik Barat, meski pengaruh politiknya sangat besar di luar akademi ekonomi.
Sejarah ekonomi pasca-Smith, teori nilai tidak lagi dilandaskan pada nilai tenaga kerja atau biaya produksi (Smith-Ricardo-Marx), melainkan beralih ke kepuasan marjinal (marginal utility) ini merpakan pendekatan yang sepenuhnya baru. Hal ini terjadi hampir bersamaan secara independen di tiga negara (1871-1874), yaitu peetama, William Stanley Jevons (Inggris) yang berpendapat perilaku individu yang menentukan nilai barang. Kedua, Carl Menger (Austria) pendiri Mazhab Austria yang menyatakan bahwa nilai tidak melekat pada barang itu sendiri, melainkan berada dalam pikiran manusia. Ketiga, Léon Walras (Prancis-Swiss) yang mencetuskan konsep teori model keseimbangan umum matematis. Kemudian Dilengkapi kontribusi awal Heinrich Gossen (1854) lewat Hukum Gossen I & II soal utilitas marjinal yang menurun. Inilah pergantian pendekatan paradigma dari teori nilai objektif (kerja/biaya produksi) digantikan teori nilai subjektif (utilitas marjinal/preferensi individu).
Terakhir muncullahAlfred Marshall yang dijuluki sebagai "Bapak Ilmu Ekonomi Neoklasik", lewat karyanya Principles of Economics (1890), menyatukan gagasan marjinalis (permintaan/utilitas) dengan warisan klasik (biaya produksi/penawaran) menjadi kerangka supply-demand yang jadi standar hingga sekarang. k
Kurva silang penawaran-permintaan yang diajarkan di kelas ekonomi dasar manapun berasal dari sintesis Marshall ini.
Sebelum Depresi Besar (1933) terjadi, teori ekonomi klasik mendominasi total yang menekankan pasar bebas, mekanisme penyesuaian otomatis, dan keyakinan bahwa kesempatan kerja penuh akan tercapai dengan sendirinya tanpa intervensi eksternal. Fondasi keyakinan ini bertumpu pada Hukum Say (dari Jean-Baptiste Say yang sudah kita bahas): dalam kerangka klasik, tidak ada alasan bagi keruntuhan permintaan untuk bertahan lama dan depresi yang berkepanjangan seperti tahun 1930-an dianggap mustahil terjadi dalam pasar bebas yang diorganisir sesuai prinsip laissez-faire.
Madzhab klasik dan neo klasik menyakini bahwa fleksibilitas pasar di bawah laissez-faire memungkinkan harga, upah, dan suku bunga menyesuaikan diri secara otomatis untuk menghapus segala kelebihan penawaran maupun permintaan. Jadi jika terjadi pengangguran, upah akan turun hingga perusahaan kembali mau mempekerjakan orang; jika terjadi kelebihan tabungan, suku bunga akan turun hingga tabungan itu kembali diinvestasikan. Semua otomatis, tanpa perlu campur tangan negara.
Tetapi teori ini seolah-olah runtuh dan gagal total secara empiris. Kenyataannya pada tahun 1929: tingkat pengangguran hanya 3,2%, kemudia pada tahun 1933 (titik terendah): pengangguran melonjak menjadi hampir 25%, lebih dari 12 juta orang kehilangan pekerjaan.
PDB riil anjlok hampir 30%, pendapatan riil per kapita turun hampir 40%. Sekitar 85.000 bisnis bangkrut, ratusan ribu keluarga kehilangan rumah, dan sekitar separuh dari seluruh hipotek rumah perkotaan menunggak pembayaran pada 1933.
Menyiapi keadaan ekonomi dunia yang carut-marut pada waktu itu muncullah John Maynard Keynes melalui karyanya The General Theory of Employment, Interest and Money (1936). Keynes memiliki gagasan bahwa Upah dan Harga Tidak Sefleksibel yang Diasumsikan. Pertama, pasar kurang kompetitif dari yang diasumsikan teori klasik. Banyak pasar barang bersifat monopolistik/oligopolistik, sehingga ketika permintaan turun, penjual memilih mengurangi produksi ketimbang menurunkan harga. Kedua, di pasar tenaga kerja, terutama yang didominasi serikat pekerja kuat, pekerja menolak pemotongan upah. ini merupaka sesuatu yang secara manusiawi masuk akal (siapa yang mau upahnya dipotong demi "menyeimbangkan pasar" secara teoretis?) tapi melanggar asumsi inti model klasik.
Keynes juga menyatakan bahwa terdapat Jebakan Likuiditas (Liquidity Trap). Konsep ini menjelaskan mengapa mekanisme suku bunga juga gagal: suku bunga mendekati nol, namun pelaku swasta tetap enggan meminjam atau berinvestasi. Terjadi karena tiga hal sekaligus: (1) peminjam melihat prospek penjualan yang buruk, (2) bank takut memberi pinjaman karena kekhawatiran kebangkrutan, dan (3) penabung memilih menunggu hasil yang lebih baik. Hal ini mengakibatkan sebagian tabungan menjadi "menganggur" (idle), tidak tersalurkan ke investasi produktif meski suku bunga sudah sangat rendah. Ini secara langsung membantah teori klasik bahwa suku bunga otomatis menyeimbangkan tabungan dan investasi.
Keynes juga mengkritik dengan istilah "Collapse of Animal Spirits" yaitu faktor psikologis yang diabaikan oleh madzhab ekonomi klasik. Keynes menjelaskan bahwa Investasi yang sebelumnya bersifat spekulatif (dicontohkan gelembung pasar saham 1929), ketika gelembung itu pecah, memicu bukan sekadar kepanikan finansial, melainkan kontraksi psikologis mendalam dalam investasi dan konsumsi, yang oleh Keynes disebut "keruntuhan animal spirits" (semangat hewani/insting optimisme pelaku ekonomi). Penarikan mendadak permintaan swasta ini mengalir ke seluruh perekonomian: rumah tangga, takut kehilangan pekerjaan, mengurangi belanja; perusahaan, menghadapi pendapatan yang menurun, mengurangi investasi, memangkas produksi, dan mem-PHK pekerja. Selanjutnya menekan konsumsi, menghasilkan spiral kontraksi yang memperkuat diri sendiri (self-reinforcing contractionary spiral). Faktor psikologis-perilaku semacam ini tidak masuk dalam model madzhab ekonomi klasik yang mengasumsikan aktor ekonomi selalu rasional dan pasar selalu bersih (market clearing).
Keynes secara eksplisit menyerang kerangka klasik dan neoklasik dengan cara yang tidak konvensional: ia menyatakan teori-teori tersebut "hanya berlaku untuk kasus khusus, bukan kasus umum". Sebuah kasus khusus yang karakteristiknya kebetulan bukan karakteristik masyarakat ekonomi tempat kita sesungguhnya hidup. Ini serangan yang jauh lebih fundamental daripada sekadar "model klasik butuh sedikit revisi". Keynes menuduh seluruh kerangka klasik dibangun di atas asumsi khusus yang sangat terbatas (kesempatan kerja penuh selalu tercapai) yang kebetulan tidak relevan dengan realitas ekonomi yang sesungguhnya bergejolak.
Jadi teori Keynesian ini bukan sekadar penyempurnaan alat analisis (seperti revolusi marjinalis terhadap teori nilai), melainkan pembalikan keyakinan filosofis paling dasar tentang bagaimana ekonomi bekerja, dari optimisme laissez-faire penuh, menjadi pengakuan bahwa negara harus turun tangan aktif lewat kebijakan fiskal-moneter untuk mendorong permintaan agregat, karena pasar tidak bisa diandalkan menyembuhkan dirinya sendiri dalam waktu yang wajar.
Keynes tidak menghapus seluruh warisan Smith. Ia tidak membantah bahwa di level mikro, pasar bebas umumnya efisien untuk alokasi sumber daya. Kritiknya spesifik pada level makro-agregat: bahwa ekonomi secara keseluruhan bisa terjebak pada tingkat output/kesempatan kerja di bawah potensi penuhnya, untuk waktu yang lama, tanpa mekanisme otomatis yang bisa memperbaikinya. Lalu bagaimana memperbaiki ekonomi Internasional saat itu?
Latar Belakang Lahirnya Internasional Monetery Fund (IMF), World Bank dan WTO
Lahirlah organisasi ekonomi internasional modern pertama yang benar-benar sistematis yaitu IMF (International Monetary Fund) dan World Bank (awalnya IBRD). Dua organisasi ini lahir dari Konferensi Bretton Woods, Juli 1944, dan secara eksplisit dirancang berbasis teori Keynesian, sebagai respons langsung terhadap kegagalan kebijakan ekonomi yang memicu dan memperparah Depresi Besar. Pada Juli 1944, ketika pertempuran Perang Dunia II masih berkecamuk di Eropa dan Pasifik, delegasi dari 44 negara sekutu bertemu di Hotel Mount Washington, Bretton Woods, New Hampshire. Konferensi ini bertujuan untuk menyepakati sistem tatanan ekonomi dan kerja sama internasional yang akan membantu negara-negara pulih dari kehancuran perang sekaligus mendorong pertumbuhan global jangka panjang.
Menariknya, John Maynard Keynes sendiri adalah salah satu perancang utama sistem Bretton Woods. Ia memimpin delegasi Inggris dan menjadi pemimpin Komisi II dalam konferensi tersebut. Rival sekaligus mitra negosiasinya adalah Harry Dexter White, ekonom senior dari Departemen Keuangan Amerika Serikat. Sejak April 1943 (setahun sebelum konferensi), Keynes dan White sudah saling bertukar proposal rencana sistem moneter internasional pasca-perang. Ini adalah proses persiapan panjang selama bertahun-tahun sebelum konferensi tiga minggu di Bretton Woods itu sendiri terjadi.
Perbedaan pendapat Keynes vs White: ada kesenjangan di antara keduanya terutama soal akses likuiditas internasional. Keynes (mewakili Inggris yang saat itu ekonominya lemah pasca-perang) menginginkan sistem yang lebih longgar dan memberi negara-negara debitur lebih banyak fleksibilitas, sementara White (mewakili AS yang saat itu menjadi kreditor dunia dengan cadangan emas terbesar) menginginkan sistem yang lebih ketat dan disiplin. Hasil akhirnya adalah kompromi antara kedua visi ini, meski secara keseluruhan kerangka teoretisnya tetap sangat Keynesian: pengakuan bahwa pasar internasional tidak bisa dibiarkan menyesuaikan diri sendiri sepenuhnya (seperti keyakinan klasik pra-Keynes), melainkan memerlukan lembaga terkoordinasi yang aktif mengelola stabilitas.
Singkat cerita, IMF dirancang sebagai "pemadam kebakaran" finansial global yang memberi pinjaman darurat kepada negara yang mengalami krisis neraca pembayaran, persis mengaplikasikan logika Keynesian bahwa pasar tidak otomatis pulih sendiri dari krisis likuiditas (mengingat "jebakan likuiditas") yang perlu intervensi aktif dari luar sistem pasar itu sendiri. World Bank (IBRD) dirancang untuk membiayai rekonstruksi dan pembangunan. Secara logika sebagai stimulus investasi dari luar untuk mendorong pemulihan ekonomi, sejalan dengan resep Keynesian tentang pentingnya mendorong permintaan agregat lewat pembiayaan aktif, bukan menunggu pasar swasta pulih dengan sendirinya. Sistem nilai tukar tetap tapi dapat disesuaikan (adjustable peg, berbasis dolar AS yang dikonversi ke emas) dirancang untuk mencegah devaluasi kompetitif yang memperparah krisis 1930-an. Hal ini penerapan langsung pelajaran pahit dari kegagalan sistem sebelumnya.
Nah sudah terjawab kan? Bagaimana IMF dan World Bank lahir. Tatanan Ekonomi Internasional baru lahir pasca perang dunia II dan mengubah seluruh landscap perdaganga, ekonomi dan hukum internasional saat itu. Tapi tatanan baru ini tidak berjalan sendiri dan keynesian bukan satu-satunya sistem yang dihasilkan dari pertemuan ini. Selain IMF dan World Bank, komponen ketiga sistem Bretton Woods lahir pada tahun 1947 yaitu General Agreement on Tariffs and Trade (GATT), yang kelak berkembang menjadi WTO (World Trade Organization).
GATT ditandatangani dalam konferensi internasional di Jenewa Oktober 1947, sebagai kelanjutan logis dari semangat Bretton Woods namun fokus khusus di liberalisasi perdagangan. Basis teorinya berbeda dari IMF/World Bank: kalau IMF-World Bank berbasis teori Keynesian (stabilitas makro, manajemen krisis), GATT justru berbasis teori perdagangan klasik-neoklasik dari konsep teori Ricardo (keunggulan komparatif) dan Heckscher-Ohlin (faktor produksi). Prinsip bahwa perdagangan bebas antarnegara saling menguntungkan, sehingga tarif dan hambatan dagang harus diturunkan secara bertahap dan terkoordinasi. Siapa insiator pembentukan GATT ini?
Pada Februari 1946 Dewan Ekonomi dan Sosial PBB membentuk Komite Persiapan untuk menyusun agenda dan proposal konferensi internasional soal perdagangan dan ketenagakerjaan, menghasilkan rancangan piagam International Trade Organization (ITO) organisasi ini didukung penuh oleh Amerika Serikat. GATT sendiri sebenarnya hanya salah satu dari sembilan bab (chapters) yang direncanakan menjadi isi Piagam Havana mengenai pembentukan ITO. Lebih tepatnya Bab IV: Kebijakan Komersial. Jadi GATT awalnya dirancang sebagai komponen teknis dari organisasi yang jauh lebih besar cakupannya (mencakup investasi, ketenagakerjaan, kebijakan komoditas, praktik bisnis restriktif — bukan hanya tarif).
Kenapa GATT ditandatangani terlebih dahulu, karena negosiasi pembentuka ITO masih berlarut-larut, sementara negara-negara sudah mendesak butuh kerangka kerja segera untuk memulai pemulihan perdagangan pasca-perang, 23 negara anggota Komite Persiapan memutuskan menandatangani GATT lebih dulu sebagai tindakan sementara. GATT ditandatangani 30 Oktober 1947 di Jenewa, dan mulai berlaku 1 Januari 1948, diikuti negara-negara pendiri termasuk Tiongkok, Inggris, dan Amerika Serikat.
Karena pembentukan ITO gagal total, jalan satu-satunya yang dapat ditempuh oleh Amerika Serikat adalah melalui intrumen GATT. GATT beroperasi lewat serangkaian "putaran perundingan" (rounds), dimulai Putaran Jenewa 1947, berlanjut ke Annecy 1949, Torquay 1951, dan seterusnya hingga sembilan putaran total, sebelum akhirnya Putaran Uruguay (1986–1994) menghasilkan transformasi GATT menjadi WTO yang resmi berdiri 1 Januari 1995.
Kenapa Amerika membutuhkan WTO? Ini merupakan sejarah panjang sendiri, butuh 75-80 tahun Amerika untuk mewujudkannya. Singkatnya berawal dari doktrin Presiden Woodrow Wilson (menjabat 1913–1921) yang sering disebut doktrin Wilson. Wilsonianisme adalah tradisi kebijakan luar negeri yang mempromosikan demokrasi, penentuan nasib sendiri (self-determination), keamanan kolektif, dan institusi internasional. Doktrin ini pertama kali dirumuskan lewat pidato terkenal "Fourteen Points" (Empat Belas Poin) yang disampaikan Wilson ke Kongres AS pada 8 Januari 1918, sebagai basis untuk mengakhiri Perang Dunia I dan mempromosikan perdamaian dunia lewat advokasinya untuk Liga Bangsa-Bangsa di Konferensi Perdamaian Paris 1919. LBB gagal, dibentuklah PBB.
Dilanjutkan oleh Presiden Franklin D. Roosevelt dan Menteri Luar Negeri Cordell Hull yang merupakan murid intelektual langsung tradisi Wilsonian. Hull secara khusus dijuluki "Bapak PBB" (karena perannya mendorong pembentukan PBB) dan juga arsitek utama Reciprocal Trade Agreements Act (RTAA) 1934. Ini merupakan undang-undang yang memberi presiden AS wewenang menegosiasikan penurunan tarif secara timbal-balik dengan negara lain tanpa perlu ratifikasi Senat penuh untuk setiap perjanjian. Setelah itu menginisiasi ITO melalui GATT, kemudian lahirlah WTO seperti dijelaskan di atas.
Wilsonianisme tidak secara langsung "membentuk" WTO dalam satu momen tunggal, melainkan berfungsi sebagai fondasi filosofis jangka panjang (hampir 80 tahun, dari 1918 hingga 1995) yang terus-menerus mendorong para pembuat kebijakan AS lintas generasi (Wilson → FDR/Hull → Truman → hingga negosiator Putaran Uruguay 1990-an) untuk terus mencoba membangun tatanan ekonomi internasional berbasis perdagangan bebas dan institusi multilateral.

Comments