Dalam "Madzhab Kritis" Nahdlatul Ulama ala Amsar A. Abdulmanan mengungkapkan bahwa terdapat fase pergeseran signifikan struktur sosial kemasyarakatan pada era orde baru sampai reformasi. Amsar memberikan penjelasan pernyataan perubahan struktur masyarakat terlalu linier. Ia mengasumsikan tiga faktor struktural (pendidikan, media, demokratisasi) bergerak searah menuju satu titik (otoritas argumentatif). Mari saya uji tiap elemennya secara terpisah, karena masing-masing sebenarnya punya efek yang jauh lebih ambigu dari yang diasumsikan. Jika kita memakai perspektif Randall Collins dalam The Credential Society bahwa ekspansi pendidikan tinggi tidak serta-merta menghasilkan masyarakat yang lebih berbasis argumen yang terjadi seringkali justru credential inflation yaitu, gelar menjadi modal simbolik baru yang menggantikan, bukan mengalahkan logika otoritas personal. Dalam konteks NU, ini terlihat jelas: gelar doktor dari universitas Barat atau Timur Tengah kerap dipaka...
Menarik membaca tulisan sesorang Sosiolog Nahdlatul Ulama Amsar A. Dulmanan di platform Duta, beliau menawarkan "Madzhab Kritis" yang lahir dari perubahan otoritas (Ulama) yang tidak statis seiring dengan perubahan sosial, politik dan Intelektual di Indonesia. Meminjam kerangka yang dikembangkan Muhammad Qasim Zaman dan Dale Eickelman dalam studi otoritas keagamaan Islam kontemporer bahwa otoritas ulama bukan sebagai entitas tetap, melainkan sebagai hasil konstruksi sosial yang terus-menerus diperebutkan (contested and constructed authority) . Paradigam ini, menegaskan bahwa otoritas keagamaan tidak pernah melekat secara inheren pada individu. Ia selalu merupakan hasil pengakuan sosial yang bergantung pada tiga hal: (a) siapa yang mengontrol sumber daya legitimasi (teks, institusi pendidikan, jaringan), (b) medium apa yang tersedia untuk mendistribusikan legitimasi itu (dari majelis taklim sampai TikTok), dan (c) kompetisi aktor mana saja yang hadir dalam arena tersebut pada ...